Bedah kasus My.Id|ROKAN HILIR – Gelombang kekecewaan dan kemarahan menyelimuti Kabupaten Rokan Hilir setelah sebanyak 1.249 tenaga pendidik—terdiri dari guru honorer dinonaktifkan secara serentak oleh pemerintah daerah. Kebijakan ini dinilai sebagai tindakan yang tidak memiliki empati dan mencederai nilai-nilai kemanusiaan.
Keputusan mendadak ini seolah menghapus seluruh pengabdian dan dedikasi para pendidik yang selama ini menjadi ujung tombak pendidikan di pelosok-pelosok Rohil. Mereka bukan hanya kehilangan pekerjaan, tetapi juga kehilangan harga diri dan penghargaan atas jasa mereka.
Zulfan Ad, Pemuda Rokan Hilir, menyampaikan kritik keras terhadap kebijakan tersebut:
> “Ini bukan soal angka, ini soal nasib. 1249 guru dinonaktifkan begitu saja tanpa kejelasan. Di mana nurani pemimpin kita? Pendidikan tidak seharusnya menjadi korban dari kebijakan yang dibuat asal-asalan,” tegas Zulfan.
Zulfan juga menyoroti alasan klasik yang digunakan pemerintah daerah untuk membenarkan keputusan ini:
> “Alasannya katanya karena taat pada aturan pusat. Tapi pertanyaannya: kenapa harus selalu berlindung pada aturan pusat? Kita ini punya Perbup, punya Perda. Kenapa tidak digunakan? Jangan hanya tunduk kalau itu menyenangkan atasan, tapi abai terhadap penderitaan masyarakat sendiri,” ujarnya.
Lebih jauh, Zulfan menilai bahwa apa yang terjadi bukan hanya soal administratif, melainkan soal kemanusiaan:
> “Pemimpin sejati adalah mereka yang mampu mengambil keputusan dengan rasa. Tapi hari ini, kami melihat kekuasaan dipakai tanpa perasaan. Dan tidak memiliki hati nurani,” tambahnya.
Kekecewaan publik juga mengarah pada Wakil Bupati Rokan Hilir, Jhoni Charles, yang sebelumnya dikenal vokal menyuarakan akan mempertahankan tenaga honorer. Namun faktanya, ketika gelombang pemecatan ini terjadi, tak ada sikap tegas atau pembelaan yang muncul darinya.
> "Apakah beliau sudah lupa janji-janji saat kampanye dulu? Dulu katanya siap membela guru honorer. Tapi kini, setelah duduk nyaman di kursi kekuasaan, setelah dapat 'jengkol', semua janji itu seolah hilang tak berbekas. Rakyat tak butuh retorika, rakyat butuh keberpihakan nyata," ujar Zulfan
Tak ada yang lebih ironis dari sebuah daerah yang berbicara tentang kemajuan, tetapi justru memukul mundur para pendidik yang seharusnya menjadi ujung tombak masa depan.
ROKAN HILIR sedang diuji: Masihkah ada pemimpin yang berani berdiri untuk rakyatnya sendiri? Atau kita semua harus terima bahwa rasa keadilan sudah mati di tangan kekuasaan?
(red)
