Bedah Kasus.my.id-KUANSING
Hutan Produksi Terbatas (HPT) di Desa Pulau Padang, Kecamatan Singingi, kembali menjadi saksi bisu perlawanan para pelaku Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) terhadap aparat. Penemuan aktifitas PETI Sekala besar pada Jumat (13/3/2026), tim menemukan fakta mengejutkan: para pelaku sempat berupaya “menghilangkan” jejak dan menyembunyikan alat berat.
Meski lokasi ditemukan, suasana di titik koordinat milik terduga Andri alias Aan tampak lengang. Tak ada satu pun pekerja yang terlihat. Diduga kuat, informasi telah bocor. Namun, jejak ” kepanikan” mereka tertinggal jelas di lapangan.
Satu unit ekskavator Sumitomo milik terduga Ade ditemukan dalam kondisi mati, tenggelam separuh badan di kubangan lumpur. Ironisnya, satu unit alat berat lainnya yang sebelumnya terpantau di pinggir sungai, kini telah berpindah dari posisi semula. Alat tersebut ditemukan tersembunyi jauh di dalam rimbunnya hutan, tertutup ranting dan pepohonan demi mengelabui pandangan udara maupun darat.
Bukan sekadar tambang, lokasi ini merupakan paket lengkap perusakan ekosistem. Selain aktivitas emas ilegal, ditemukan pula praktik Illegal Logging yang masif. Berikut rincian aset yang berhasil ditemukan
Aset Tambang: 2 Unit Ekskavator, 3 mesin setingkay, 2 mesin dompeng, dan 1 rakit pencuci emas.
Aset Perambahan: Kayu olahan (papan dan broti) sebanyak 3 kubik yang siap jual, serta 1 unit mesin chainsaw (sinso).
Logistik Mafia: 15 jerigen BBM subsidi , mesin genset, serta perlengkapan Camp permanen.
Kesal dengan ulah pelaku yang mencoba menyembunyikan barang bukti, tim mengambil photo dan vidio di tempat aktifitas Karena medan yang ekstrem—berjarak 4 KM dengan rute terjal
Pengamat lapangan melaporkan adanya pola “perlawanan pasif” dari pihak pengelola. Pergeseran mesin setingkay ke pinggir sungai besar dan penghilangan karpet penyaring emas menunjukkan bahwa para pelaku sedang berupaya menyelamatkan komponen vital yang bernilai tinggi.
“Ini bukan sekadar tambang rakyat biasa. Ini adalah operasi terorganisir yang merambah Hutan Produksi Terbatas (HPT). Fakta bahwa alat berat bisa bergeser dalam waktu singkat menunjukkan mereka masih memiliki akses dan nyali untuk kembali jika pengawasan melonggar,” ujar narasumber di lapangan.(Tim)
