Bedah Kasus My.Id| BATAM
Pintu ruang peradilan semu Fakultas Hukum Universitas Riau Kepulauan (UNRIKA) itu tertutup. Dari dalam terdengar suara tanya jawab yang tegas, kadang pelan, kadang menegang. Waktu berjalan lambat.
Di luar pintu, dua anak berdiri menunggu.
Cornelius Nielsen Sinurat (12) dan Nelly Laurentia Sinurat (8) tidak sepenuhnya memahami bagaimana jalannya sidang skripsi. Mereka tidak tahu tentang metodologi, data primer, atau kaidah ilmiah. Tapi mereka mengerti satu hal yang jauh lebih penting:
Ayah mereka sedang berjuang.
Jumat sore, 6 Februari 2026, menjadi hari yang tak akan mudah mereka lupakan. Mereka melihat sendiri bagaimana sang ayah, Jonrius Sinurat, mempersiapkan hari itu. Malam-malam belajar, membaca, memperbaiki naskah, membagi waktu di antara keluarga dan tanggung jawab lain.
Kini, perjuangan itu sedang dipertaruhkan di balik pintu.
Sesekali Cornelius mencoba mengintip ke arah gagang pintu, berharap ada seseorang keluar membawa kabar. Nelly duduk, berdiri lagi, berjalan beberapa langkah, lalu kembali diam. Kecemasan anak-anak selalu jujur.
Di dalam ruangan, Jonrius mempertahankan skripsinya yang berjudul “Implementasi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers terhadap Perlindungan Wartawan dalam Mewujudkan Kemerdekaan Pers.”
Ia menjawab pertanyaan, memaparkan analisis, mencoba setenang mungkin. Namun pikirannya tahu, ada dua pasang mata kecil yang sedang menunggu hasilnya.
Ketika Ketua Penguji, Dr. (c.) Winda Roselina Effendi, S.I.P., M.I.P., didampingi dua Penguji lainnya, Dr. Seftia Azrianti, S.H., M.H., dan Rabu, S.H., menyampaikan evaluasi, suara itu perlahan mengubah ketegangan menjadi harapan.
“Memang tidak ada yang sempurna, kesempurnaan hanya milik Tuhan. Tapi skripsi Pak Jonrius ini salah satu yang menganalisis dengan baik. Peneliti hadir di dalam analisisnya. Data primer dan sekunder sudah terpenuhi. Secara keseluruhan sesuai kaidah penulisan,” ujarnya.
Jonrius menarik napas. Ia tahu, pintu kemenangan mulai terbuka.
Dan benar saja. Kalimat penentu itu akhirnya tiba.
Ia dinyatakan lulus dengan nilai sangat memuaskan.
Syukur mengalir cepat. Namun sebelum merayakan apa pun, ada dua orang yang ingin segera ia temui.
Pintu dibuka.
Cornelius dan Nelly spontan berdiri. Mereka membaca wajah ayahnya seperti membaca pengumuman. Ketika senyum itu muncul, mereka berlari.
“Kami tahu Papa pasti bisa!” seru Cornelius.
Nelly memeluk ayahnya erat. “Papa tidak sia-sia belajar terus,” katanya.
Pelukan itu lebih kuat dari tepuk tangan mana pun. Di momen itu, seorang ayah sedang memberi pelajaran tanpa kata: tentang kerja keras, tentang tidak menyerah.
Istri Jonrius, Lianni Nababan, tak bisa hadir karena tugas pekerjaan. Tetapi namanya berkali-kali disebut dalam hati Jonrius. Ia tahu, tanpa pengertian dan dukungan sang istri, ia mungkin tak akan sampai di hari itu.
Dalam pesan yang dikirim setelah kabar kelulusan, Lianni berkata,
“Saya bangga. Anak-anak melihat sendiri perjuangan Papanya hari ini.”
Ucapan selamat berdatangan dari pimpinan universitas, dosen, sahabat, dan keluarga besar. Namun bagi Jonrius, yang paling ia cari sejak awal hanyalah dua suara kecil di depan pintu tadi.
Beberapa jam setelah semuanya usai, telepon dari ibunda tercinta masuk. Ia hanya ingin menanyakan kabar. Ketika diberi tahu bahwa anaknya telah lulus, sang ibu bersyukur haru.
“Berarti ini gerakan batin, cuma mau tanya kabarmu saja tadi,” ucapnya.
Hari itu seperti disusun rapi oleh semesta: anak-anak menunggu, istri mendoakan dari tempat kerja, ibu menguatkan dari jauh.
Sore pun berubah menjadi perayaan sederhana. Jonrius menggandeng Cornelius dan Nelly berfoto bersama rekan-rekan seangkatan di lingkungan kampus. Tawa mereka pecah, menutup tegang yang tadi sempat panjang.
Di sela kebahagiaan itu, Jonrius berbisik pelan,
“Papa lakukan ini supaya kalian tahu, kalau kita berjuang, Tuhan buka jalan,” katanya.
Seorang mahasiswa telah lulus.
Tetapi dua anak hari itu mendapatkan sesuatu yang lebih besar: teladan hidup dari ayahnya sendiri.
Dan bagi Jonrius Sinurat, S.H., kemenangan terbesar memang bukan hanya di dalam ruang sidang, melainkan di depan pintu — tempat anak-anaknya menunggu dengan cinta.
