Bedah kasus My.Id|Rokan hilir – Mes Bupati Kabupaten Rokan hilir yang dahulu dikenal sebagai tempat masyarakat menyampaikan suara hati kepada pemimpinnya, kini hanya tinggal cerita. Bangunan yang dulunya menjadi simbol keterbukaan dan kedekatan antara masyarakat dan kepala daerah itu, kini sunyi, sepi, dan tak ubahnya rumah hantu.
Tak ada lagi suara tanya dari masyarakat. Tak ada lagi derap langkah warga yang berharap bertemu langsung dengan pemimpinnya. Karena kini, sosok yang seharusnya menjadi pengayom dan pendengar keluh-kesah masyarakat, justru jarang terlihat menempati rumah jabatan tersebut.
H. Bistamam, Bupati Rokan, disebut lebih sering berada di Pekanbaru dari pada di daerah yang ia pimpin. Ketidak hadiran ini menimbulkan keresahan dan kekecewaan di tengah masyarakat. Mereka merasa ditinggalkan, seolah tak lagi memiliki tempat untuk mengadu.
“Dulu kami bisa datang ke mes bupati dan langsung bertemu dengan kepala daerah. Sekarang? Pintu mes dan pagar pun selalu tertutup. Hanya satpam yang berjaga,” ujar salah satu warga dengan nada kecewa.
Sebagai pemimpin, kehadiran dan keterlibatan langsung di tengah masyarakat adalah kewajiban moral. Namun yang terjadi justru sebaliknya: mes bupati kosong, aspirasi masyarakat terabaikan, dan kepercayaan perlahan menghilang.
Apakah ini potret kepemimpinan yang pantas dipertahankan?Warga Rokan hilir berharap ada perubahan yang digaungkan disaat mereka mengemis meminta suara terhadap masyarakat rokan hilir.
Kami rindu pemimpin yang hadir, mendengar, dan berjuang bersama rakyat. Bukan pemimpin yang hanya hadir saat pesta dan upacara.(Red)
