Bedah kasus My.Id| Rokan Hilir – Wakil Bupati Rokan Hilir, Jhoni Charles, menjadi sorotan publik setelah tidak menemui langsung mahasiswa dan tenaga honorer yang menggelar aksi unjuk rasa di depan Mess Pemda pada Selasa (3/6). Aksi tersebut dilakukan untuk menyampaikan aspirasi terkait nasib tenaga honorer di lingkungan pemerintahan daerah kabupaten Rokan hilir.
Ketidakhadiran wakil bupati Jhoni Charles dalam aksi itu menuai kritik tajam dari para demonstran. Salah satu peserta aksi, Zulfan Asnan Dahlan, meluapkan kekecewaannya melalui kolom komentar di akun Facebook resmi milik Jhoni Charles.
“Kenapa tidak mau menjumpai mahasiswa dan masyarakat honorer yang sedang aksi di depan Mess Pemda, Pak Wabup? Mereka datang ingin menyampaikan aspirasi, kenapa malah lebih memilih menghadiri acara di Hotel Lion?” tulis Zulfan.
Menanggapi komentar tersebut, Jhoni Charles menjelaskan bahwa surat aspirasi telah dikirimkan ke Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), dan bahkan menyarankan agar surat serupa dikirimkan ke kementerian agar pemerintah pusat mengetahui kondisi keuangan Kabupaten Rokan Hilir.
“Surat aspirasinya sudah dikirim ke BPKAD, dan kalau perlu buat surat untuk kementerian agar diteruskan ke pusat, supaya kondisi Rohil bisa terlihat secara real. Demo-nya pun di mess, bukan di kantor bupati,” jawab Jhoni Charles.
Namun, balasan tersebut justru memperkeruh situasi. Dalam komentar lanjutan, Jhoni Charles menyinggung kegiatan yang dihadirinya di Hotel Lion, sekaligus menyindir beberapa nama yang diduga terlibat dalam aksi.
“Di Hotel Lion acara Apdesi, untuk mengingatkan agar dana desa digunakan untuk pembangunan dan arahan lainnya. Bukan seperti masa 4 tahun lalu yang ada pengembalian dana dan ada yang jadi tersangka. Ketua demonya Bung Akas ya? Kalau tidak salah pengikut setia MR ED, seperti Bro Zulfan juga.”
Pernyataan ini kembali mendapat respons keras dari Zulfan, yang menilai wakil bupati Jhoni Charles hanya berani berkomentar di media sosial namun enggan turun langsung menemui massa aksi.
“Apakah seorang wakil bupati hanya bisa menyampaikan ini lewat komentar Facebook? Kenapa tidak berani menjumpai rakyatnya langsung? Jangan bermain retorika, kami sudah terbiasa menghadapi hal seperti itu,” balas Zulfan.
Zulfan juga menyinggung sikap Jhoni Charles yang dinilai bertolak belakang dengan semangat kampanye yang dahulu digaungkan.
“Dulu saat kampanye, Bapak turun ke masyarakat. Tapi sekarang, saat masyarakat ingin menyampaikan aspirasi, Bapak malah memilih ruangan ber-AC daripada menemui kami.”
Ia juga mengecam sikap Wakil Bupati yang menyinggung kepemimpinan sebelumnya dan menyebut nama-nama tertentu dalam tanggapannya.
“Tidak perlu mengungkit kepemimpinan lama. Pilkada sudah usai, tidak ada lagi nomor satu dan dua. Bukankah itu pesan Pak Bupati H. Bistamam? Apa Bapak sudah lupa?”
Menutup kritiknya, Zulfan melabeli wakil bupati Jhoni Charles sebagai “konten kreator” karena lebih aktif di media sosial daripada berinteraksi langsung dengan masyarakat.
“Wajar saya menyebut Wakil Bupati sebagai konten kreator. Saat rakyat ingin menjumpainya, beliau malah memilih menghadiri acara di tempat ber-AC. Ini bukan sikap pemimpin rakyat,” pungkasnya.
